Senin, 08 Juli 2019

TRADISI BUDAYA KUSING


TRADISI BUDAYA KUSING  (BERSENGAJA/ BASANGAJA ) DALAM LINGKUNGAN SOSIAL DINEGERI HITU
Oleh: S. Pelu

 
Pengertian Negeri Hitu, Budaya dan Bersengaja
Negeri Hitu Merupakan, Negeri yang dimana terletak di Pulau Ambon, yang berada di Jazirah Leihitu, pada Kawasan Kabupaten Maluku Tengah. Kerajaan Tanah Hitu ini memiliki masa kejayaan antara 1470-1682. Negeri Hitu Sendiri dibagi menjadi dua pemerintahan diantaranya Pemerintahan Hitulama yang di pimpin oleh raja yang diberi gelar Upu Latu, dan Negeri Hitumesseng di pimpin oleh raja yang di beri gelar Upu Kaya. Negeri Hitu khusunya memiliki bermacam Budaya dan bermacam Tradisi pada lingkungan sosial, dalam keseimbangan dan kalestarian lingkungan sekitarnya. Kondisi lingkungan hidup memiliki pengaruh pada perilaku manusia, sepreti halnya pada daerah Hitu, ada Budaya yang di sebut dengan Budaya Basangja ( Kusing ). Sebelum saya menjelaskan lebih detail tentang budaya basangaja atau Kusing, Terlebih dulu saya akan menjelaskan beberapa pengertian tentang budaya dan bersengaja. Apa yang dimaksud dengan budaya? Secara umum, pengertian budaya adalah suatu cara hidup yang terdapat pada sekelompok manusia, yang berkembang dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Ada juga yang mengatakan bahwa arti budaya adalah suatu pola hidup yang tumbuh dan berkembang pada sekelompok manusia yang mengatur agar setiap individu mengerti apa yang harus dilakukan, dan untuk mengatur tingkah laku manusia dalam berinteraksi dengan manusia lainnya. Untuk memahami interaksi antar budaya, terlebih dahulu kita harus memahami komunikasi manusia. Memahami komunikasi manusia berarti memahami apa yang terjadi, apa yang dapat terjadi, dan akibat-akibat apa yang akan terjadi. Secara bahasa, kata “budaya” berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Buddhaya yang merupakan bentuk jamak dari kata Buddhi dimana artinya adalah segala hal yang berhubungan dengan budi dan akal manusia. Dalam hal ini, budaya sangat berkaitan dengan bahasa atau cara berkomunikasi, kebiasaan di suatu daerah atau adat istiadat. Budaya juga berkenan dengan bentuk fisik serta lingkungan soisal yang yang mempengaruhi hidup kita.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, pengertian budaya adalah segala hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya meliputi produk teknologi dan kebendaan lainnya, rasa meliputi jiwa manusia yang selaras dengan norma dan nilai sosial, sedangkan cipta meliputi kemampuan kognitif dan mental untuk mengamalkan apa yang diketahuinya. Sedangkan Besengaja Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), Arti Kata Bersengaja merupakan kata yang di ambil dari, ber.se.nga.ja yang merupakan Verba (kata kerja) dan arti dari bersengaja ini merupakan perbuatan yang di buat-buat dengan sengaja. Sedangkan Pandangan menurut masyaratakat Hitu, budaya Basangaja atau Kusing merupakan cara yang dilakukan antara satu orang dengan orang yang lain dan kelompok-kelompok mata rumah. Maksud dari satu orang dan orang lain ini memiliki makna tersendiri dan tidak sama budaya basangaja pada umumnya.
Tentang Budaya Basangaja ( Kusing ) di Negeri Hitu
Masyarakat Hitu memiliki salah satu tradisi unik yang terus dilakukan sampai sekarang ini, nama tradisi unik itu adalah Budaya Basangaja atau Kusing, Tradisi budaya basangaja atau Kusing, biasa dilihat dari Istilah Kaum Malono dan kaum Mahina, Bukan Cuman itu saja ada juga istilah dari Ua-Ua dan Mahina Ulu. Istilah Kaum Malono ini biasa di ambil dari keluarga Laki-laki sedangkan kaum mahina diambil dari keluarga perempuan. Sedangkan Ua-Ua dan Mahina ulu itu di ambil dari sodara perempuanya laki-laki, dan mahina ulu di ambil dari istri dari sodara laki-laki. Bukan hanya sodara kandung saja, tetapi diambil dari sepupuan, dan kerabat-kerabat lainya, seperti Ipar yang masuk pada Mata rumah tersebut. Dari Pengertian itulah munjul Budaya  ini, Sehingga Timbul yang di sebut dengan Budaya Basangaja atau Kusing. Budaya Basangaja atau Kusing ini  merupakan Suatu komunitas rasial, etnik,regional,ekonomi dalam lingkungan hidup sosial, budaya basangaja atau Kusing ini sudah ada pada masa orang tua-tua sebelumnya, dan budaya ini tidak dilakukan dari semua golongan yang ada di Negeri Hitu, tetapi dillihat dari mata-mata rumah saja, jadi yang tidak termasuk dari mata rumah itu tidak bisa malukan kegiatan basangaja. Budaya ini sudah dilakukan pada masa sebelumnya dan dilakukan sampai sekarang ini. Tradisi “Kusing” biasanya digelar untuk meningkatkan dan mempererat tali silaturahmi, serta sebuah tradisi yang menjalin persaudaraan antar sesama di mata rumah tersebut.
Budaya Basangaja ( Kusing ) ini meperlihatkan pola-pola perilaku yang membedakan dari subkultur-subkultur lainya dalam suatu budaya masyarakat. Informasi yang saya himpun dari para tetua adat di negeri Hitu mengatakan bahwa tradisi ini dilaksanakan,  Seperti yang sering dilihat pada Negeri Hitu bahwa Budaya basangaja atau Kusing, biasanya di lakukan ketika ada acara-acara pada mata rumah, seperti acara dudu meja, khitan, aqikah, kawin dan bukan hanya acara-acara tertentu saja tetapi bisa dilakukan ketika Kusing ini saling Ketemu dimanapun. Budaya Basangaja atau Kusing mirip sekali dengan bersengaja pada umumnya, tetapi yang sering kita lihat pada negeri Hitu. Budaya basangaja atau Kusing, berbeda dengan Budaya basangaja yang sering dilakukan oleh masyarakat Hitu. Yang membedakan dari Basangaja pada umumnya yaitu bisa melakukan bersengaja dengan siapapapun itu asalkan tidak menimbulkan kekacauan, dan biasanya itu budaya basangaja pada umumnya hanya di lakukan dengan teman-teman tertentu atau kerabat dekat. Sedangkan Budaya Kusing Yang di lakukan oleh Masyarakat Negeri Hitu dilakukan oleh Luma Tau (Mata Rumah) saja. Terkait dengan Budaya Basangaja atau Kusing  pada Masyarakat Hitu adalah bagian dari prosesi dianggap menjadi hal di dalam Tradisi pada mata Rumah. Dan masayarakat Hitu juga  menganggap kebudayaan ini bukan sebatas Hura-hura, namun bagian untuk menghidupkan kembali setiap budaya Kusing  pada Mata Rumah yang dimaksud tersebut. Budaya Basangaja Kusing merupakan salah satu identitas masyarakat Hitu yang digelar untuk mempererat tali silaturahmi antara Lumatau (Mata Rumah), yang sudah terikat sebagai saudara oleh para leluhur mereka. Menurut para masyarakat Negeri Hitu, nilai penting dari Tradisi Basangaja Atau Kusing tersebut adalah bagaimana masyarakat, menghormati Orang Tua-tua dari Mata Luma ( Ruma Tau ) dari sila-sila turunan yang ada pada diri kita. Diatas telah di jelaskan sedikit tentang tradisi budaya kusing  (bersengaja/ basangaja ) dalam lingkungan sosial dinegeri Hitu, dalam penjelasan itu kita akan menemukan alasan kenapa budaya Kusing ini perlu di lestarikan, karena budaya ini dilakukan agar hubungan antara sosial budaya yang ada pada negeri Hitu tidak akan Hilang, dan budaya ini bukan merupakan budaya yang membandingkan antara ras lainya. Pada hakikatnya tidak ada budaya yang statis, semakin kebudayaan yang memiliki dinamika dan mobilitas atau gerak dari kebudayaan yang merupakan gerak dari masyarakat, terhadap lingkungan hidup sosial dalam masyarakat Hitu ini sendiri, tradisi ini bukan hanya ada pada negeri Hitu, Ada juga pada Negeri-negeri lainya. Sehingga budaya ini terjadi karena ada hubungan dengan manusia-manusia lainya, ataupun karena terjadi hubungan antar kelompok-kelopmpok manusia dalam masyarakat kebudayaan itu sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian budaya basangaja atau Kusing in.

Yang perlu di pertanyakan apakah budaya basangaja ini suda di kenal oleh kalangan muda sekarang terkusunya masyarakat Hitu? Dan apakah budaya basangaja ini bisa di implementasikan dengan yang lainya?  shingga Anak Hitu Sekarang Bisa Mengerti tentang Makna Kusing itu, dan Tidak terjadi Kesalahpahaman ketika mereka melakukan Basangaja tersebut?.

TRADISI BUDAYA KUSING

TRADISI BUDAYA KUSING   ( BERSENGAJA/ BASANGAJA ) DALAM LINGKUNGAN SOSIAL DINEGERI HITU Oleh: S. Pelu   Pengertian Negeri...