TRADISI
BUDAYA KUSING (BERSENGAJA/ BASANGAJA ) DALAM LINGKUNGAN SOSIAL DINEGERI HITU
Oleh:
S. Pelu
Pengertian Negeri
Hitu, Budaya dan Bersengaja
Negeri Hitu
Merupakan, Negeri yang dimana terletak di Pulau Ambon, yang berada di Jazirah Leihitu, pada Kawasan
Kabupaten Maluku Tengah. Kerajaan Tanah Hitu ini memiliki masa kejayaan antara 1470-1682. Negeri Hitu Sendiri dibagi menjadi dua pemerintahan diantaranya
Pemerintahan Hitulama yang di pimpin oleh raja yang diberi gelar Upu Latu, dan Negeri Hitumesseng di
pimpin oleh raja yang di beri gelar Upu
Kaya. Negeri Hitu khusunya memiliki bermacam Budaya dan bermacam Tradisi
pada lingkungan sosial, dalam keseimbangan dan kalestarian lingkungan
sekitarnya. Kondisi lingkungan hidup memiliki pengaruh pada perilaku manusia,
sepreti halnya pada daerah Hitu, ada
Budaya yang di sebut dengan Budaya Basangja ( Kusing ). Sebelum saya menjelaskan lebih detail tentang budaya
basangaja atau Kusing, Terlebih dulu
saya akan menjelaskan beberapa pengertian tentang budaya dan bersengaja. Apa
yang dimaksud dengan budaya? Secara umum, pengertian
budaya adalah suatu cara hidup yang terdapat pada sekelompok
manusia, yang berkembang dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke
generasi berikutnya. Ada juga yang mengatakan bahwa arti budaya adalah suatu
pola hidup yang tumbuh dan berkembang pada sekelompok manusia yang mengatur
agar setiap individu mengerti apa yang harus dilakukan, dan untuk mengatur
tingkah laku manusia dalam berinteraksi dengan manusia lainnya. Untuk memahami
interaksi antar budaya, terlebih dahulu kita harus memahami komunikasi manusia.
Memahami komunikasi manusia berarti memahami apa yang terjadi, apa yang dapat
terjadi, dan akibat-akibat apa yang akan terjadi. Secara bahasa, kata “budaya”
berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Buddhaya
yang merupakan bentuk jamak dari kata Buddhi dimana artinya adalah segala hal
yang berhubungan dengan budi dan akal manusia. Dalam hal ini, budaya
sangat berkaitan dengan bahasa atau cara berkomunikasi, kebiasaan di suatu
daerah atau adat istiadat. Budaya juga berkenan dengan bentuk fisik serta
lingkungan soisal yang yang mempengaruhi hidup kita.
Menurut
Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi,
pengertian budaya adalah segala hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya
meliputi produk teknologi dan kebendaan lainnya, rasa meliputi jiwa manusia
yang selaras dengan norma dan nilai sosial, sedangkan cipta meliputi kemampuan
kognitif dan mental untuk mengamalkan apa yang diketahuinya. Sedangkan
Besengaja Menurut Kamus besar Bahasa
Indonesia (KBBI), Arti Kata Bersengaja merupakan kata yang di ambil dari, ber.se.nga.ja yang merupakan
Verba (kata kerja) dan arti
dari bersengaja ini merupakan perbuatan yang di buat-buat dengan
sengaja. Sedangkan Pandangan menurut masyaratakat Hitu, budaya Basangaja atau Kusing merupakan cara yang dilakukan
antara satu orang dengan orang yang lain dan kelompok-kelompok mata rumah. Maksud
dari satu orang dan orang lain ini memiliki makna tersendiri dan tidak sama
budaya basangaja pada umumnya.
Tentang
Budaya Basangaja ( Kusing ) di Negeri Hitu
Masyarakat Hitu memiliki salah satu tradisi unik yang terus
dilakukan sampai sekarang ini, nama tradisi unik itu adalah Budaya Basangaja
atau Kusing, Tradisi budaya basangaja
atau Kusing, biasa dilihat dari
Istilah Kaum Malono dan kaum Mahina, Bukan Cuman itu saja ada juga
istilah dari Ua-Ua dan Mahina Ulu. Istilah Kaum Malono ini biasa di ambil dari
keluarga Laki-laki sedangkan kaum mahina
diambil dari keluarga perempuan. Sedangkan Ua-Ua
dan Mahina ulu itu di ambil dari
sodara perempuanya laki-laki, dan mahina ulu di ambil dari istri dari sodara
laki-laki. Bukan hanya sodara kandung saja, tetapi diambil dari sepupuan, dan
kerabat-kerabat lainya, seperti Ipar yang masuk pada Mata rumah tersebut. Dari Pengertian itulah munjul Budaya ini, Sehingga Timbul yang di sebut dengan Budaya Basangaja atau Kusing. Budaya Basangaja atau Kusing ini merupakan Suatu komunitas rasial, etnik,regional,ekonomi dalam lingkungan
hidup sosial, budaya basangaja atau Kusing
ini sudah ada pada masa orang tua-tua sebelumnya, dan budaya ini tidak
dilakukan dari semua golongan yang ada di Negeri Hitu, tetapi dillihat dari
mata-mata rumah saja, jadi yang tidak termasuk dari mata rumah itu tidak bisa
malukan kegiatan basangaja. Budaya ini sudah dilakukan pada masa sebelumnya dan
dilakukan sampai sekarang ini. Tradisi “Kusing” biasanya digelar untuk meningkatkan dan mempererat tali
silaturahmi, serta sebuah tradisi yang menjalin persaudaraan antar sesama di mata rumah tersebut.
Budaya Basangaja (
Kusing ) ini meperlihatkan pola-pola perilaku yang membedakan dari
subkultur-subkultur lainya dalam suatu budaya masyarakat. Informasi yang saya
himpun dari para tetua adat di negeri Hitu mengatakan bahwa tradisi ini
dilaksanakan, Seperti yang sering dilihat
pada Negeri Hitu bahwa Budaya basangaja
atau Kusing, biasanya di lakukan
ketika ada acara-acara pada mata rumah, seperti acara dudu meja, khitan, aqikah, kawin dan bukan hanya acara-acara tertentu saja tetapi bisa dilakukan ketika Kusing ini saling Ketemu dimanapun. Budaya Basangaja atau Kusing mirip sekali dengan bersengaja
pada umumnya, tetapi yang sering kita lihat pada negeri Hitu. Budaya basangaja
atau Kusing, berbeda dengan Budaya basangaja yang sering dilakukan oleh masyarakat
Hitu. Yang membedakan dari Basangaja pada umumnya yaitu bisa melakukan bersengaja
dengan siapapapun itu asalkan tidak menimbulkan kekacauan, dan biasanya itu budaya
basangaja pada umumnya hanya di lakukan dengan teman-teman tertentu atau kerabat
dekat. Sedangkan Budaya Kusing Yang di lakukan oleh Masyarakat Negeri Hitu dilakukan oleh Luma Tau (Mata Rumah)
saja. Terkait dengan Budaya Basangaja atau Kusing
pada Masyarakat Hitu adalah bagian dari prosesi
dianggap menjadi hal di dalam Tradisi pada mata Rumah. Dan masayarakat Hitu
juga menganggap kebudayaan ini bukan
sebatas Hura-hura, namun bagian untuk menghidupkan kembali setiap budaya Kusing pada Mata Rumah yang dimaksud tersebut. Budaya
Basangaja Kusing merupakan salah satu
identitas masyarakat Hitu yang digelar untuk mempererat tali silaturahmi antara
Lumatau (Mata Rumah), yang sudah
terikat sebagai saudara oleh para leluhur mereka. Menurut para
masyarakat Negeri Hitu, nilai penting dari Tradisi Basangaja Atau Kusing tersebut adalah bagaimana
masyarakat, menghormati Orang Tua-tua dari Mata
Luma ( Ruma Tau ) dari sila-sila turunan yang ada pada diri kita. Diatas
telah di jelaskan sedikit tentang tradisi budaya kusing (bersengaja/
basangaja ) dalam lingkungan sosial dinegeri Hitu, dalam penjelasan itu
kita akan menemukan alasan kenapa budaya Kusing ini perlu di lestarikan, karena
budaya ini dilakukan agar hubungan antara sosial budaya yang ada pada negeri Hitu
tidak akan Hilang, dan budaya ini bukan merupakan budaya yang membandingkan
antara ras lainya. Pada hakikatnya tidak ada budaya yang statis, semakin
kebudayaan yang memiliki dinamika dan mobilitas atau gerak dari kebudayaan
yang merupakan gerak dari masyarakat, terhadap lingkungan hidup sosial dalam masyarakat Hitu ini sendiri,
tradisi ini bukan hanya ada pada negeri Hitu, Ada juga pada Negeri-negeri
lainya. Sehingga budaya ini terjadi karena ada hubungan dengan manusia-manusia
lainya, ataupun karena terjadi hubungan antar kelompok-kelopmpok manusia dalam
masyarakat kebudayaan itu sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian budaya basangaja atau Kusing in.
Yang perlu di pertanyakan apakah budaya basangaja ini suda
di kenal oleh kalangan muda sekarang terkusunya masyarakat Hitu? Dan apakah
budaya basangaja ini bisa di implementasikan dengan yang lainya? shingga Anak Hitu Sekarang Bisa Mengerti tentang Makna Kusing itu, dan Tidak terjadi Kesalahpahaman ketika mereka melakukan Basangaja tersebut?.
